Semerbak Teratai Di Kolam Berlumpur

Di dalam hitam ada putih, di dalam putih ada hitam. Di dalam kebenaran ada kesalahan, dan di dalam kesalahan ada kebenaran. Tidak ada yang abadi dan sempurna di dunia ini.

Di tengah kolam berlumpur yang kotor tumbuh sekuntum bunga teratai nan indah dan semerbak. Adakah yang bersedia mengotori dirinya untuk mendapatkan bunga tersebut?

Part one: Pertemuan Pertama
Jakarta, February 1996

Minggu siang, bersama dua orang teman saya, Andi dan Al, kita berjalan-jalan menghabiskan waktu di Mal Ciputra. Andi adalah temen akrab saya sejak kecil, satu SMP, SMA, dan satu universitas. Dia seumuran dengan saya, 24 tahun. Sedang Al adalah adik temen kuliah saya. Dia berumur 19 tahun dan kuliah di UT, tetangga Mal Ciputra.

Ketika berada di eskalator menuju lantai 5, tiba-tiba tatapan saya tertuju ke sepasang paha langsing mulus milik seorang cewek yang berada di depan saya. Paha putih mulus tersebut hanya tertutup sedikit di bagian atas oleh rok mini biru tuanya yang berwarna hitam. Karena posisi saya yang berada di bawah, saya bisa melihat celana dalam hitamnya yang mengintip malu-malu di antara kedua pahanya. Terasa degupan jantung saya yang semakin cepat. Tiba di lantai 5, saya mempercepat langkah kaki saya untuk menyusul gadis tersebut. Andi dan Al mengikuti saya. Ketika saya berada sejajar dengan gadis tersebut, saya memandang mukanya……. Oh-my god! Cewek yang sangat manis, dengan sepasang matanya begitu bulat dan jernih. Mukanya begitu mulus dan cantik! dengan rambut hitam tebal panjang, dia terlihat begitu mempesona.

Saya berjalan terus mengikuti cewek tersebut. Di belakang saya, Andi dan Al sedang mengobrol dan tidak menyadari bahwa saya sedang memperhatikan cewek tersebut. Gadis tersebut berjalan masuk ke Hoka Hoka Bento. Saya menghentikan saya dan menunggu Andi dan Al.

“Makan yukk……… Gua lapar neh……….” Ajak gua yang ternyata disambut gembira oleh mereka. Memang saat itu sudah hampir jam 3 sore dan kita belon makan siang. Selesai memesan makanan, saya mencari meja yang bersebelahan dengan cewek tersebut. Sambil makan saya menatap dia, yang dibalas juga oleh si cewek.

“Wah……… nantang ya……….” pikir saya selanjutnya. Saya percaya bahwa tatapan mata seseorang itu bisa menceritakan kondisi orang tersebut. Saya bisa membaca ada kesedihan dan kekaguman di sinar matanya. Kesedihan yang tidak saya ketahui alasannya dan kekaguman yang saya kira ditujukan ke saya🙂
(Buat para petualang yang belon berpengalaman, saran saya adalah memperhatikan tatapan cewek di mana aja kalian berada. Biasanya ce yang berani melawan tatapan anda adalah petualang juga, buktikanlah).

Cukup lama kita mengadu pandangan, akhirnya dia menunduk dengan muka memerah. Saya mengambil kesempatan tersebut untuk menurunkan tatapan mata saya ke payudaranya. Kaos hitam tipisnya tidak bisa menyembunyikan tonjolan buah dadanya, lumayan… cukup besar… pikir saya.

“Tuh cewek cakep banget Gus, kayaknya lagi memperhatikan kita-kitanya…” bisik Andi yang duduk di samping saya.

“Mana… mana…?” tanya Al. Masih polos tuh anak…. belon tau kalo dari tadi gua udah mengicer tuh cewek.

“Yang duduk di meja sebelah…. aduh… cakepnya… saya jatuh cinta pada pandangan pertama nih….” kata si Andi.

Saya cuman diam dan sedang melanjutkan tatapan gua. Sekali-kali dia membalas tatapan mata gua. Sambil makan, saya mengumpulkan keberanian untuk berkenalan. Saat saya lagi mempertimbangkan maju atau mundur, tiba-tiba Andi berjalan ke arah cewek tersebut. Terlihat dia menyapa cewek tersebut dan kemudian terlihat dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Sialan…. saya kecolongan…..” pikir saya. Tanpa pikir panjang lagi saya menyusul si Andi.

“……. nunggu temen” saya mendengar suara si cewek saat saya mendekat mereka.

“Gus, kenalin… ini… Vivi” kata si Andi memperkenalkan cewek tersebut.

Saya mengulurkan tangan saya “Saya Agus…..” jawab saya memperkenalkan diri.

“Vivi……” jawab dia pendek.

“Nama yang bagus, lagi menunggu siapa Vi?” tanya saya. Saya tau yang namanya cewek tu paling suka dipuji……

Dia tersenyum…. manis sekali…… “temen saya, janjian mau datang. Kok nggak nongol-nongol sich?” gerutu Vivi sambil cemberut.

“Viiiiiiii…. Vivi……….” tiba-tiba terdengar suara beberapa orang cewek. Saya melihat ke arah suara tersebut yang ternyata berasal dari dua orang cewek temennya si Vivi. Dengan cepat mata saya menyapu tampang mereka yang datang. Lumayan juga pikir saya… tetapi dibandingkan Vivi… masih mendingan Vivi…. Jadi saya putuskan untuk tetap fokus ke Vivi.

Dalam sekejap ruangan tersebut penuh dengan suara keempat cewek tersebut. Rupanya mereka adalah temen satu SMA. “Udah ya…. filmnya udah mau mulai…..seneng ketemu kaliannya” kata Vivi sambil berjalan keluar restaurant. Wah, gimana nich biar bisa ketemu lagi…… saya memutar otak saya.

“Viii…. bisa minta nomor telepon loe…..” seru saya sambil berlari ke arah Vivi. Dia tersenyum manis dan menyebut nomor HP tertentu. Dengan sigap saya mengeluar HP dan memasukkan nomor tersebut. Di belakang saya Andi juga memasukkan nomor tersebut ke HP-nya. Kemudian Vivi meninggalkan retaurant tersebut, membawa bersamanya semangat dan jiwa saya.

“Gus, saya jatuh cinta nih…. buat saya aja ya?” tanya si Andi.

“Wah, sorry Di, saya juga suka… buat gua aja ok?” tanya gua balik.

Saat itu entah bercanda atau tidak Andi menjawab “Gua lebih baik kehilangan seorang temen daripada kehilangan Vivi……”

Part 2: Kala cinta mulai bersemi

Malamnya sekitar jam 9, gua langsung menelepon si Vivi. Tanggapannya cukup baik, kita ngobrol sekitar 15 menit. Dari sana saya tau kalo dia kost di daerah Mangga Besar bersama seorang kakak perempuannya. Saat ini dia kuliah di salah satu universitas di kawasan Grogol, jurusan Management tingkat akhir. Umurnya 23 tahun. Asalnya dari Palembang, dan di Palembang ibunya tinggal bersama dengan seorang kakak perempuannya.

Habis itu hampir setiap hari saya selalu menelepon Vivi dan menanyakan kondisi dia, dsbnya. Akhirnya gua tau dia tuh belon punya cowok. Pernah pacaran sebelumnya tetapi udah putus tahun lalu. Saya beberapa kali mengajak dia keluar tetapi selalu ditolak dengan halus. Akhirnya semangat saya sedikit mengendor tetapi tetap rajin menanyakan kondisi dia.

Suatu hari kakaknya yang mengangkat telepon saya dan memberitahukan bahwa si Vivi lagi sakit. Saya menanyakan alamat mereka dan kakaknya memberitahukan saya. Kemudian dengan bergegas saya mengeluarkan mobil saya dan mengarahkan mobil saya ke kost dia. Saya singgah sebentar di Bakmi Gajah Mada dan membeli dua bungkus bakmi. Waktu saya tiba di kost mereka ternyata Vivi lagi tidur dan saya menitipkan bakmi tersebut ke kakaknya. Kakaknya sangat mirip si Vivi, dengan tubuh yang jauh lebih indah. Menurut saya Vivi agak kurus.

Tindakan saya ini rupanya memberikan kesan yang sangat mendalam ke Vivi. Besoknya dia menelepon saya untuk mengucapkan terima kasih. Ada nada haru di suaranya. Minggu itu selama tiga hari berturut-turut saya membelikan makanan buat mereka. Hari ketiga saya dipersilahkan masuk ke kostnya mereka yang cukup mewah. Ketika jam dinding berdentang 10 kali, saya melihat kakaknya si Vivi dengan gelisah selalu melirik ke jam. Tau diri, saya pamit ke merekanya.

Benih-benih cinta mulai bersemi di hati saya dan Vivi. Hampir setiap minggu saya nongol di kostnya dan kita sering makan dan nonton bareng.

15 Maret 1999 jam 17.00, saya lagi bekerja di kantor saya yang berlokasi di daerah Sudirman. Saya dipindahkan dari cabang Grogol ke kantor pusat sejak bulan February 2000. Tiba-tiba HP saya berdering dan saya liat nama Vivi muncul di layar telepon tersebut. Dengan buru-buru saya menjawab telepon tersebut, rupanya hari itu Vivi ulang tahun dan dia bermaksud mengundang saya untuk makan malam. Tanpa pikir panjang gua langsung mengiyakan.

Buru-buru saya membereskan barang-barang saya dan dengan tergesa-gesa saya menuju ke toko di gedung sebelah untuk membeli satu pot bunga mawar berikut boneka beruang yang cukup besar.

Malam itu Vivi terlihat begitu cantik, dengan baju pestanya berwarna hitam. Belahan bajunya yang begitu rendah memamerkan kulit dadanya yang putih bersih. Dia terlihat begitu ceria dan dengan sigap merekam situasi di sana dengan handycamnya. Ketika itu, saya terkejut melihat sosok yang saya kenal: Andi. Dia sendiri juga terlihat kaget melihat saya. Rupanya saat itu Vivi mentraktir Andi bersama dengan temen-temen SMA dia. Terasa canggung sekali saat itu berhadapan dengan Andi.

Abis itu saya bersama Vivi makan di salah satu cafe di Kemang. Ketika saya menganter Vivi pulang dia mengaku kalo Andi sering menelepon dia tetapi dia sendiri lebih suka bersama saya. Saat mendengar pengakuannya saya termenung, bagaimana tanggapan Andi yang merupakan temen deket saya kalo saya pacaran dengan Vivi?

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 ketika kita tiba kembali di kostnya. Kakaknya saat itu tidak berada kost, menurut Vivi, kakaknya sedang keluar kota. Kemudian Vivi meminta saya menunggu soalnya dia bermaksud untuk mandi.

Ketika dia mandi, iseng-iseng saya melihat sekeliling kamarnya berjalan ke arah telivi yang terletak di atas meja tulis. Tanpa sengaja, mata saya tertuju ke ujung sebuah photo yang nongol dari salah satu laci di meja tersebut. Saya mengeluarkan photo tersebut dan tercegang melihat photo seorang cewek telanjang. Saya memperhatikan photo tersebut dan mengucek-ngucek mata gua, gadis itu adalah kakaknya si Vivi! Di photo tersebut, kakaknya sedang berdiri di samping kolam renang pribadi dengan tubuh polos! Terlihat buah dadanya yang montok dan bulu kemaluannya yang sangat lebat. Dengan tangan gemetar, mata saya mencari tanggal di photo tersebut, 12 Desember 1995. Hmmm…. masih baru.

Tiba-tiba suara air di kamar mandi menghilang. Dengan sigap saya memasukkan photo tersebut kembali dan selesai mandi Vivi keluar hanya mengenakan handuk berwarna pink, sepertinya dia lagi memancing gua… hihi… Dia terlihat sangat segar.

Ketika dia membuka lemari untuk mencari pakaian, saya memeluk dia dari belakang. Terasa tubuhnya yang dingin dan tercium wangi sabun yang baru dipakainya. Saya mencium lehernya dari belakang……….

“Ih… Geli ah…. udah dong… ” komentar si Vivi.

Gua tidak menjawab melainkan tetap melanjutkan ciuman gua, kali ini turun ke pundaknya yang putih mulus. Dia berusaha mengelak, tetapi saya tidak memberinya kesempatan. Ciuman saya berlanjut ke belakang telinga dia. Saya bisa mendengar nafasnya yang mulai memburu.

Tangan saya melingkari pinggangnya yang ramping. Saat itu kemaluan saya menekan pinggulnya yang sangat montok. Ciuman saya kemudian berlanjut ke pipinya. Dia menoleh ke belakang dengan sigap bibir saya mendarat di bibir saya. Saya mengulum bibirnya dengan penuh perasaan. Dia menutup matanya dan terlihat menikmati ciuman tersebut. Selang 5 menit kemudian, tangan kanan saya beralih ke buah dadanya yang masih tertutup handuk. Kenyal sekali…. Jari-jari saya berusaha mencari puting susunya tetapi agak susah soalnya di balik handuk tersebut dia sudah memakai bra. Tangan kiri saya beralih mengelus pahanya yang putih mulus. Terasa mulus dan dingin (abis baru mandi).

Entah disengaja atau tidak, Vivi menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga menggesek kemaluan saya. Getar kenikmatan yang saya rasakan begitu luar biasa.
“Eh, gua punya ide nih……..” tiba-tiba Vivi berkata, “Gimana kalo kita merekam apa yang akan kita lakukan?”

“E…. me.. me… reeekammmm?” tanya gua tergagap. Gua sering nonton BF tetapi kalo pemainnya saya sendiri gimana ya?

“Iya, abis itu kalo kita nonton lagi pasti seru……” jawab Vivi. Saya tidak menyangka di balik wajahnya yang begitu polos dia bisa menawarkan hal tersebut.

“E…. boleh dech…. tapi abis itu langsung di hapus ya?” kata gua, sedikit ragu-ragu. Abis gimana kalo nanti ada orang lain yang meliat film tersebut?

“Tentu dong.. Hihi…” Jawab si Vivi. Kemudian dia berjalan ke meja dan membuka handycamnya. Dia menekan beberapa tombol dan meletakannya di meja dengan kamera menghadap ke ranjang.

Perlahan, Vivi berjalan ke kasur. Kerling matanya seakan-akan menyihir dan memancing saya. Saya cuman bisa mengikutinya. Tiba di pinggir kasur, dengan posisi berdiri dia memeluk leher saya dan mencium saya denga buas. Cukup lama kita berciuman, kemudian saya membaringkan Vivi di kasur. Berbaring di samping dia, saya mengarahkan bibir saya untuk mencium bibirnya yang tipis. Perlahan dan penuh perasaan saya mengulum dan melumat bibirnya.

Degup jantung saya semakin cepat ketika saya mengarahkan tangan kanan saya ke arah dadanya yang masih tertutup handuk. Sedikit gemetar tangan saya ketika jari-jari saya berusaha membuka handuk yang melilit erat ditubuhnya. Mata Vivi masih terpejam menikmati ciuman kita. Ketika handuk tersebut terbuka, udara dingin dari AC langsung menyentuh kulitnya. Vivi membuka matanya, pandangan terlihat sayu….

“Gua sayang Vivi……” setelah itu saya melanjutkan ciuman gua. Dengan buas saya mencium dan mngulum bibirnya sambil menjulurkan lidah saya menyusuri bibir yang terasa hangat.

Merasakan nafasnya yang mulai memburu, saya mengarahkan tangan saya ke buah dadanya yang masih tertutup bra hitam. Saya meremas buah dadanya yang montok dan kenyal. Kelima jari tangan saya menari-nari di atas buah dadanya, jempol dan jari telunjuk saya berusaha mencari puncak tonjolan buah dadanya. Di puncak gunung dadanya jari tangannya memutar dan memelintir ujungnya yang menonjol dan menegang.

Ketika jemari tangan saya berkutat dengan payudaranya, ciuman saya beralih ke lehernya yang jenjang. Perlahan-lahan lidah dan bibir saya menyusuri telinganya, turun ke lehernya, dan pundaknya. Kemudian saya mengalihkan tangannya ke atas, sehingga saya bisa melihat ketiaknya yang mulus tanpa bulu. Ciuman saya berlanjut ke daerah ketiaknya….. dia mendesah pelan ketika lidah saya bermain di sana. Keharuman sabun yang dia pakai sewaktu mandi masih terasa.

Kemudian lidah saya mulai menyusuri daerah dadanya. Tangan saya bergerak ke arah bra hitamnya dan dengan cekatan melepas kancing branya yang berada di depan. Ketika kancing tersebut terbuka, terpampanglah pemandangan sepasang gunung yang begitu indah. Di puncaknya terlihat pentil susunya yang kecil dan berwarna coklat muda. Perlahan saya melingkari buah dada kanannya, mulai dari dasar sampai ke puncaknya. Sementara itu bibir saya mengulum buah dada kirinya. Sekali-kali saya mengalihkan mata saya ke mukanya Vivi yang sudah merah padam akibat bara nafsu yang sudah menyala.

Ciuman saya berlanjut menyusuri perutnya yang datar dan bermain di pusarnya yang kecil. Setelah itu perjalanan lidah saya dilanjutkan ke paha dalamnya, menyusuri pahanya ke lututnya kemudian kembali lagi ke ujung kedua pahanya. Saat itu Vivi memakai celana dalam hitam dan sela-sela celana dalamnya terlihat ujung beberapa helai bulu kemaluan yang ogah bersembunyi di dalam. Saya menggerakkan lidah saya menyusuri pinggiran celana dalamnya. Kemudian jari saya menarik celana dalamnya ke bawah dan melepaskannya dari sepasang kakinya yang indah. Tatapan mata saya tertuju ke daerah kemaluannya yang berwarna kemerah-merahan dan penuh ditumbuhi ilalang hitam keriting. Jarang saya melihat cewek dengan bulu kemaluan yang sedemikian rimbun, dan bulu-bulu tersebut juga tumbuh di samping bibir vaginanya menutupi bibir kemaluan dan kelentitnya.

Dengan jari saya, saya mengusap perlahan bulu kemaluannya. Kemudian jari tangan saya berusaha menyibak bulu yang menutupi bibir kemaluannya. Terlihat lubang kemaluannya yang masih sempit dan basah oleh cairan berwarna bening. Saya menggerakkan jari saya ke daerah kelentitnya dan mencari titik sensitif tersebut. Cukup lama saya berusaha, akhirnya berhasil juga saya menempatkan kelentitnya di antara jari tengah dan jari telunjuk saya. Lidah saya kemudian saya arahkan ke kelentitnya…. terasa asin dan tercium harum sabun yang semerbak…..

“Ahhhhhhhhh…. Gus……… Ahhhhhhhhhh” terdengar desisan Vivi. Pada saat bersamaan dia menggerakkan pinggulnya ke atas ke arah muka saya sehingga muka saya terbenam seluruhnya di pangkal pahanya. Ketika dorongannya mengendor, saya menggerakan lidahkan saya menyusuri bibir kemaluannya menuju lobang kemaluannya. Di sana saya berusaha memasukkan lidah saya ke dalam……

“Ahhhh……. geeeeeliiiiiiii…….”

Lidah saya kemudian melanjutkan perjalanannya ke bawah, sekali ini menuju lobang yang berada di antara dua gumpalan pinggulnya. Lidah saya meneruskan tariannya disana.

“ahhhhh….. oh….. enakkkk Gus….” seru Vivi sambil mengangkang kakinya lebar-labear.

Cukup lama lidah saya bermain di daerah kewanitaannya dan Vivi cuman bisa mendesis dan menikmati setiap sentuhan lidah saya. Sekali-kali saya memasukkan jari saya di lobang kenikmatannya yang ternyata tidak begitu dalam. Jari tengah saya bisa menyentuh mulut rahimnya yang juga merupakan titik sensitif dia. Cairan dari kemaluan dia semakin banyak dan baunya begitu merangsang, begitu nikmat.

Kemudian saya kembali menjilati kacangnya yang sensitif dengan cepat. Lidah saya naik-turun dengan cepat dan bertenaga. Jari tengah dan telunjuk saya menyusuri lobang kewanitannya dengan gerakan yang semakin cepat.

“Ah…. Enak… Gus… lebih cepet dongggggggggg……” Pinta si Vivi, “Gua udah nggak tahan…. Masukin punya kamu Gus….. Masukin Gus”

Saya tidak menghiraukan dia melainkan meneruskan jilatan dan gerakan jari gua. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, jarinya menjambak rambut saya dan pahanya mengepit kepada saya. Vivi meronta-ronta seperti ikan di daratan. Rupanya dia mencapai puncak kenikmatannya.

Ketika gerakan tubuhnya berhenti, saya membiarkannya sekitar dua tiga menit agar kenikmatan yang ia rasakan bisa dinikmati sepuasnya. Setelah itu saya melanjutkan gerakan lidah saya kembali. Beberapa menit kemudian, desisannya mulai terdengan kembali….

“ihhhh….. ohhhhh…..”

Merasa bahwa dia sudah terangsang kembali, saya bangkit dan menyiapkan tongkat wasiat saya yang sudah mencapai kekerasan optimumnya. Saya mengarahkannya ke lobang kenikmatan Vivi. Saya menggesek-gesekan tongkat tersebut di daerah sensitif di kemaluan Vivi.

“Ah….. Masukkin Gus…. Tolonggg…. jangan siksa saya…. Masukkin…” mohon si Vivi….

Saya tersenyum dan bersiap-siap memasukkan tongkat wasiat saya. Perjalan tongkat tersebut menyusuri lobang yang sempit, basah dan hangat memnghasilkan sensasi dan getaran kenikmatan yang luar biasa. Saya menutup mata saya sambil berusaha menikmati setiap perasaan yang ada.

Merasakan batang kemaluan saya mencapai ujung lorong kemaluan Vivi, saya mencium bibir dan keningnya.

“I love you, Vi…….. Kamu cakep sekali” bisik saya di telinganya.

“I love you too………” jawab Vivi dengan nafas memburu.

Setelah itu mulailah saya mengeluarkan dan memasukkan tongkat wasiat saya. Saya merasakan Vivi juga menggerakkan pinggulnya dengan gerakan memutar.

“Ah…. Enak… Vii….” harus saya akui bahwa permainannya begitu nikmat.

Setelah pinggul saya terasa capek, saya mengganti gerakan saya dengan gerakan memutar…………

“Ahhhh………. Ohhhh….. ahhhhhh……..” Vivi mendesah dan desahan beserta teriakkannya membangkitkan nafsu saya.

“Ahhh…… Gua datang Gus……..” Kali ini arus kenikmatan yang datang begitu dasyat. Vivi menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan bertenaga. Saya sendiri berusaha menekan tongkat wasiat saya sedalam-dalamnya.

Akhirnya arus kenikmatan kedua tersebut tiba juga diiringi teriakan Vivi yang begitu keras. Saya menutup bibirnya dengan bibir saya agar suaranya tidak menbangunkan tetangga kamar kostnya dia.

Akhirnya dia terbaring lemas.

Saya kembali memberikan dia waktu untuk menikmati arus kenikmatan tersebut. Setelah itu saya kembali menarik dan mendorong keluar masuk tongkat wasiat saya. Terangsang oleh desahan dan teriakan Vivi, saya akhirnya menyembulkan cairan hangat saya di lobang kenikmatannya yang sudah basah kuyub.

“Ahhh…. gua datang Vi…” Betapa nikmatnya.

Abis itu, dengan tubuh lemas Vivi berjalan ke arah Handycamnya dan menghubungkannya ke telivisi 28 inchnya. Saya sendiri masih terengah-engah kecapean di ranjang.

Vivi me-rewind handycamnya beberapa kali dan mencari-cari rekaman percintaan kita. Akhirnya dia menemukan adegan tersebut. Dada saya berdegup kencang menyaksikan diri saya di rekaman tersebut. Beberapa perasaan hadir sekaligus, takut, senang, terangsang, penasaran dan sebagainya. Vivi sendiri juga melotot melihat rekaman tersebut. Ketika rekaman tersebut menunjukkan Vivi mencapai orgasmenya karena jilatan saya, saya melihat Vivi meraba daerah kemaluannya sendiri. Tongkat saya mulai mengeras dan membesar.

Akhirnya malam itu kita bercinta dua kali lagi. Saya orgasme tiga kali dan Vivi sekitar tujuh kali. Tetapi setiap kali kita melihat adegan rekaman tersebut, dengan cepat gairah nafsu menguasai kita.

Di pagi hari Vivi menghapus rekaman tersebut. Sebenarnya saya kepengen menyimpannya tetapi dia menolak, sayang sekali khan?

Part 3: Teratai di kolam berlumpur
September 1996

Setelah kejadian tersebut, hubungan saya dan Vivi semakin akrab. Bulan depan papa saya akan datang ke Jakarta. Saya bermaksud mengenalkan Vivi ke beliau.

Jumat malam saya diminta bos saya untuk menemani lima tamu perusahaan saya ke karoake Hailai. Memakai jas hitam dan koas ketat didalam, saya terlihat begitu keren malam itu.

Tiba di karaoke tersebut, kami meminta Mami-nya untuk mencarikan kami 6 orang cewek yang akan menemani kami bernyanyi. Dalam waktu 15 menit, Mami tersebut kembali dengan beberapa orang gadis.

Gadis kedua yang memakai baju putih dengan segera menarik perhatian saya. Dada saya berdebar dan tubuh saya gemetar ketika mengenal gadis tersebut. Dia adalah Vivi!!!! Ruangan karoake y


About this entry