Kisah di Kamar Kos 21

Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Biasa teman-
temanku memanggilku Nana (nama lengkap/aslinya ga usah disebut yah),
lahir tahun 83. Tubuhku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir
kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar tubuh 86/60/90.
Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong ,dan kulit putih karena aku WNI
keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas sastra di salah satu
universitas swasta di Bandung dan ngekost tidak jauh dari kampusku.
Aku termasuk gadis yang sering ke salon dan modis, maka aku sudah
tidak asing dengan tatapan nakal cowok-cowok di kampus kalau aku
memakai pakaian yang ketat atau agak seksi, apalagi ketika ngedugem
dimana aku memakai pakaian yang lebih terbuka. Dalam percintaan,
secara jujur kuakui aku bukan type yang setia. Aku sudah mempunyai
pacar yang sedang kuliah di Amerika sehingga kami jarang bertemu,
kami sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan aku mencintainya, tapi
darah muda dalam diriku melibatkanku dalam beberapa hubungan one
night stand dengan teman kuliah maupun teman dugem, bagiku semua itu
hanya hubungan badan tanpa merubah perasaanku pada pacarku.
Waktu itu teman kostku sudah banyak yang pulang, di kostku hanya tersisa seorang pria, dan dua wanita termasuk diriku. Yang dua itu tidak pulang karena ikut semester pendek, tapi aku belum pulang karena waktu itu di rumahku tidak ada siapa-siapa berhubung kedua orangtuaku sedang menghadiri pernikahan di kota lain dan kakakku satu-satunya sudah dua tahun yang lalu.
menikah dan ikut suaminya. Jadi pemikiranku lebih baik kutunda kepulanganku sampai papa dan mamaku pulang 2-3 hari lagi, daripada kesepian di rumah mendingan kuisi waktuku untuk having fun bersama teman-temanku di Bandung. Malam itu aku ngedugem di salah satu tempat dugem di jalan Cihampelas. Teman-temanku mencekoki minuman sementara aku tidak kuat minum, mereka bilang untuk merayakan kenaikan IPK-ku. Aku mabuk sehingga dalam perjalanan pulang dengan mobil Ocha aku numpang ke WC di rumah Risa waktu sampai di rumahnya karena tidak tahan mau muntah. Setelah muntah akupun masih pusing- pusing sehingga terpaksa aku minta Risa untuk menginap di rumahnya semalam saja daripada pulang ke kost dalam keadaan sempoyongan, kan ‘ga enak dilihat.
Singkat cerita akupun menginap di rumah Risa malam itu dan baru terbangun besoknya, hari Minggu jam sebelasan. Kepalaku masih agak berat.
“Lu orang sih, nyuruh gua minum terus, aduh kaya mau mati aja kemarin rasanya tau !” omelku pada Risa.
“Hihihi, gapapa lah Na sekali-kali aja, kan kita baru selesai
semester nih !” jawabnya tertawa kecil mengingat keadaanku kemarin. Akhirnya setelah makan sedikit, Risa mengantarku pulang ke kostku di daerah Sukamekar. Kumasuki pintu gerbang kostku, suasanya sepi seperti beberapa hari terakhir. Di depan pos jaga aku berpapasan dengan Gungun, pegawai/ penjaga kostku yang berusia dua puluhlimaan sedang ngobrol-ngobrol dengan dua orang pemuda yang kira-kira sebaya dengannya, aku tidak tahu siapa mungkin temannya yang penduduk sekitar sini. Aku tersenyum kecil sebagai basa-basi dan mereka membalasnya.
Terasa sekali mereka memandangi tubuhku yang masih memakai pakaian seksi semalam berupa sebuah rok putih sejengkal di atas lutut dan tank top berdada rendah yang memperlihatkan sedikit belahan dadaku. Aku mempercepat langkahku ke tangga, di dekat tangga akupun berpapasan lagi dengan pegawai kostku yang lain, si Acep yang masih berusia SMA, sekitar enambelas tahun, orangnya agak culun, berambut cepak dan kerempeng, dia sering bertugas membelikan barang pesanan dan mengantar makanan untuk kami, para penghuni disini.
“Eh…Neng, baru pulang yah !” sapanya sambil cengengesan.
Aku hanya menjawab iya saja lalu menaiki tangga, instingku mengatakan kalau dia berusaha mengintip rokku yang mini ketika aku naik, sempat terlihat sekilas olehku ketika sampai di lantai dua dan membelok. Sampai di kamar, aku langsung membuka pakaianku dan masuk ke kamar mandi, langung kubuka shower dan kuguyur tubuhku dengan air dingin, segar sekali rasanya, udara di luar waktu itu lagi panas ditambah lagi panas alkohol masih sedikit terasa dari dalam tubuhku.
Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun sambil mengelap rambutku dengan handuk. Kuambil celana dalam kuning dan kupakai. Aku tidak menemukan baju barongku yang biasa kupakai tidur di gantungan di pintu, baru ingat kalau baju itu sudah kutaruh
di tempat cucian. Karena malas mencari baju lain di lemari, akupun lantas melempar diriku ke kasur. Biar saja tidur hanya dengan celana dalam, apalagi cuacanya lagi panas, kipas anginnya juga kumatikan. Kututupi tubuhku dengan selimut dan kupeluk guling kesayanganku untuk melanjutkan tidurku yang masih belum puas ditambah masih sedikit pening, maklumlah orang ga kuat minum di suruh minum banyak ya gini nih jadinya. Entah berapa lama aku tertidur lelap sekali sampai kurasakan ada rasa geli pada tubuhku, secara refleks tanganku menepis dan menggulingkan tubuh ke arah lain. Namun perasaan itu datang lagi dengan lebih hebat, kali ini juga kurasakan pada paha dan dadaku seperti ada yang mengenyot. Kali ini aku terbangun dan
kaget sekali melihat ternyata benar-benar ada orang yang sedang mengenyot dadaku dan seseorang lainnya sedang menjilati pahaku. Spontan akupun menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Ketika aku meronta, gerakanku langsung terkunci oleh
tangan-tangan yang memegangi kedua tangan dan kakiku.
Aku mengedip-ngedipkan mata memperjelas pandanganku, aku makin terperanjat dengan keempat wajah menyeringai diatasku, wajah yang tak asing bagiku. Yang dua adalah pegawai kostku, Gungun dan Acep dan dua orang temannya yang kutemui di bawah tadi. Aku tidak habis
pikir bagaimana mereka bisa masuk sini, padahal pintu sudah kukunci, tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu, sekarang harusnya memikirkan apa yang harus kulakukan menghadapi situasi ini.
“Halo Neng, maaf yah kita masuk sini diam-diam abis ga tahan liat body Neng yang bahenol !” kata Gungun.
“Emmphh…eemhhh !” aku berusaha berteriak walau mulut masih dibekap sambil meronta ketika Gungun meraba payudaraku.
“Udahlah Neng, ga usah ngelawan terus, disini lagi gak ada siapa- siapa kok !” sahut orang yang membekapku yang berambut agak bergelombang dan matanya besar.
Dalam situasi makin kritis seperti ini aku mulai berpikir ulang, aku pernah membaca berita tentang pembunuhan di kost, melawan mereka yang sedang kalap mungkin saja malah mencelakakanku, bukankah lebih baik pasrah saja menuruti mereka. Lagipula aku ini kan bukan perawan dan pria yang pernah main denganku bukan hanya pacarku, bedanya cuma mereka sama-sama WNI keturunan dan yang empat ini bukan. Yah, anggap saja tambah pengalaman seks lah, begitu pikirku positif. Yang masih membuatku risau adalah apakah aku sanggup melawan empat orang
sekaligus mengingat seumur hidup aku selalu bermain konvensional satu lawan satu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk mencoba rasanya digangbang. Seiring dengan birahiku yang mulai naik, rontaanku pun berangsur-angsur berkurang berganti menjadi kepasrahan. Darahku berdesir dan bulu-buluku merinding ketika tangan- tangan itu menggerayangi tubuhku, ciuman dah jilatan juga menghujani tubuhku. Salah seorang teman Gungun tadi menarik lepas celana dalamku. Keempat orang itu menelan ludah menyaksikan keindahan tubuhku yang sudah telanjang bulat, terutama Acep sepertinya ini baru pertama kali dia melihat tubuh wanita secara nyata.
“Anjrit, jembutnya lebat banget euy !” kata Gungun sambil merabai kemaluanku yang berbulu lebat tapi rapi, karena sering kucukur rapi tepiannya agar tidak keluar-keluar kalau memakai baju renangku yang seksi.
Teman Gungun yang rambutnya gondrong sebahu menciumi payudaraku, digigit dan disedot-sedotnya putingku yang sensitif. Kuncian mereka terhadapku mengendur dan tangan yang membekap mulutku juga sudah lepas. Kepalaku menggeleng-geleng ketika Gungun mau menciumku, tapi dia lalu memegangi kepalaku sehingga aku tak bisa lagi menghindari mulutnya. Rangsangan yang datang bertubi-tubi membuatku semakin horny dan mulutku pun membuka menerima serangan lidah Gungun, mau tak mau aku harus beradaptasi dengan bau mulutnya. Kumainkan lidahku mengimbangi lidahnya yang menari-nari di mulutku. Ketika asyik berciuman dengan Gungun setidaknya ada dua jari yang bermain di vaginaku, aku tidak tahu siapa itu karena aku biasa memejamkan mata kalau berciuman agar lebih menghayati, selain itu tangan yang
menggerayangiku ada empat pasang sehingga tidak sempat mengenalinya satu-satu.
Lama juga Gungun menciumiku, itu dia lakukan sambil tangannya menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, hampir lima menit kira-kira, begitu mulutnya lepas aku akhirnya lega bisa kembali menghirup udara segar walau dengan nafas sudah memburu.Ketika kubuka mata, kulihat di
sebelah kananku teman Gungun yang matanya besar itu sedang mengenyoti payudaraku dengan rakusnya, dia sudah membuka pakaiannya, aku melihat penisnya yang sudah tegang itu menggantung di selangkangannya, bentuknya panjang dengan kepalanya disunat. Iihhh…
geli sekaligus terangsang membayangkan aku harus mengulum dan dimasuki benda itu. Si Acep sedang menjilat dan meraba tubuh bagian sampingku (sekitar perut, paha, dan dada), dia juga masih memakai kaos oblongnya tapi celananya sudah dibuka, penisnya yang juga bersunat lumayan juga untuk seumuran dia. Ternyata yang daritadi mengorek vaginaku adalah si pemuda gondrong, kini dia bahkan mendekatkan wajahnya ke sana dan uuhh…lidahnya menyentuh bibir vaginaku dan terasa menggelitik nikmat tubuhku sampai menggeliat karena itu. Aku bingung apa yang kualami saat itu termasuk perkosaan atau bukan, dibilang ya bisa juga karena awalnya mereka yang memaksa, tapi dibilang tidak juga bisa karena toh aku juga mulai menikmatinya.
“mem*knya enak, wangi loh mmm…ssluurrpp !” sahut si gondrong di bawah sana.
“Oh, ya…nanti juga saya mau nyicipin yah, makannya cepet !” kata Gungun.
“Jangan lama-lama yah, nanti kita kebagiannya bau jigong lu” timpal si mata besar
Kini Acep sudah mencaplok payudaraku dengan mulutnya, walau kelihatan culun jilatannya membuat putingku makin menegang. Gungun juga membuka pakaiannya hingga telanjang. Wah, anunya juga ga kalah gede dari kedua temannya, tinggal milik si gondrong saja yang belum
kulihat karena dia masih sibuk menjilat vaginaku. Aku harus mengakui enak sekali diperlakukan seperti ini, dalam seks satu lawan satu aku tidak pernah merasakan bagian-bagian sensitifku dimainkan dalam saat bersamaan.
“Uuhh-eeemm….aaahh !” aku tak tahan untuk tidak mendesah ketika lidah si gondrong menyapu bibir vaginaku, bukan cuma itu, jarinya pun ikut keluar masuk di sana.
Hal itu berlangsung sekitar lima menit lamanya, kemudian Gungun mengambil posisinya.
“Hayo sini, saya juga mau rasain, gantian dong !” katanya menyuruh si gondrong menyingkir.
Langsung Gungun melumat bagian selangkanganku itu dengan bernafsu, tangannya memegangi kedua pahaku sambil mengisap dan menjilat, mulutnya terbenam di kerimbunan bulu kemaluanku, gayanya seperti makan semangka saja. Serangannya lebih mantap dari si gondrong yang
cenderung monoton, lidah si Gungun sepertinya agak panjang sehingga ketika menyusup ke dalam vagina benda itu menyentuh klitorisku juga menjilati dinding kemaluanku, kontan akupun makin menggelinjang tak karuan. Ketiga orang lainnya tertawa-tawa dan berkomentar jorok
melihat reaksiku, mereka pun makin bersemangat mengerjaiku. Payudaraku sedikit nyeri ketika dipencet-pencet si mata besar dengan gemasnya. Si gondrong yang kini sudah membuka bajunya berlutut di sebelahku memegangi penisnya untuk disodorkan padaku.
“Diisep Neng, enak loh !” suruhnya sambil menggosokkan kepala penis itu ke wajah dan bibirku.
Walau sebenarnya geli dengan kemaluannya yang hitam dengan kepala kemerahan itu, aku tertantang juga untuk mencobanya, maka kugenggam batang itu dengan tangan kiri dan kuawali dengan menyapukan lidah pada kepala penisnya. Dia langsung mendesah keenakan karenanya.
Entah kekuatan apa yang membuatku demikian liar, padahal sebelumnya dekat-dekat orang seperti mereka saja aku enggan, apalagi untuk ML.
Awalnya aku sangat tidak nyaman dengan aroma penisnya, namun mau tidak mau aku harus membiasakan diriku. Aku berusaha tidak menghirupnya dan kuemuti dalam mulut sambil sesekali mengocok dengan tangan, kesempatan itulah yang kupakai untuk mengambil udara segar.
Sementara rasa geli pada vaginaku kian menjalari tubuhku, rasanya seperti mau pipis. Tubuhku menggelinjang, aku tidak tahan lagi dan mencapai orgasme pertamaku, dari vaginaku keluarlah lendir yang dijilatinya dengan lahap.
“Eh-eh, gantian dong, saya juga mau ngerasain pejunya si Neng !” kata si Acep
Acep menggantikan posisi si Gungun, dia menjilati sisa-sisa cairan kemaluanku. Jilatannya tidak selihai Gungun, maklum karena dia masih hijau, baru pertama kalinya menikmati wanita. Dia lebih suka menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya yang memberi rasa geli. Sekarang Gungun berlutut di sebelah ku dan meraih tanganku digenggamkan ke penisnya. Keras dan hangat, egitulah kesan pertama begitu jari-jariku melingkari batang itu. Mulailah aku mengocok
penis itu dengan tangan kiriku dan yang kanan memegangi milik sigondrong sambil mengoralnya. Si mata besar masih menyusu dengan nikmatnya pada payudaraku, sepertinya dia ketagihan dengan payudaraku yang montok itu.
Acep tidak lama menjilati vaginaku, posisinya digantikan oleh si mata besar yang tidak sabar menunggu giliran, karena paling kecil diapun mengalah pada temannya. Si mata besar mencium vaginaku dengan bernafsu dan terkesan terburu-buru. Aku dibuatnya semakin bergairah
melayani kedua penis yang menodongku, secara bergantian kukocok dan kuoral menirukan apa yang pernah kulihat di film porno di rumah temanku. Rasa jijikku pada penis hitam yang kepalanya seperti jamur itu perlahan-lahan sirna. Gungun mengungkapkan ekspresi nikmatnya
dengan meremas payudaraku yang digenggamnya, sedangkan si gondrong sambil menekan-nekan penisnya ke mulutku ketika gilirannya dioral seolah tidak rela melepaskannya. Ditambah lagi Acep sedang asyik memainkan putingku, benda mungil berwarna merah kecoklatan itu dia pilin-pilin dengan jarinya sesekali juga dijilati. Si mata besar pun
tidak lama-lama menjilati vaginaku, dia lalu bangkit berlutut diantara kedua pahaku dan menempelkan kepala penisnya di bibir vaginaku.
Kuhentikan sejenak aktivitas terhadap dua penis dalam genggamanku
untuk memperhatikan penis si mata besar mendesak memasuki vaginaku.
Kutahan nafasku sambil menggigit bibir, proses penetrasi itu
kuresapi dalam-dalam. Setelah masuk sebagian dia menghentakkan
pinggulnya sehingga penis itu menghujam sampai mentok, spontan aku
pun menjerit kecil dan merapatkan pahaku.
“Waaah…enak pisan, sempit oi !” katanya setelah berhasil membobol
vaginaku.
Tanpa buang waktu lagi dia menggenjotku, penis itu keluar-masuk
vaginaku. Aku meneruskan kocokanku terhadap si gondrong dan Gungun,
rasa nikmat yang menjalari tubuhku semakin membuatku bersemangat
mengocok kedua penis itu. Si Acep juga makin seru mengisapi
payudaraku sampai basah kuyup oleh ludahnya juga oleh ludah orang-
orang yang tadi mengisapnya. Tak lama kemudian, ketika aku sedang
mengulum penis Gungun, sesuatu yang basah dan hangat menerpa wajah
dan leherku dari samping. Ow, ternyata si gondrong sudah keluar,
kulepas sejenak penis Gungun dari mulutku, semprotan berikutnya
makin membasahi wajahku begitu aku menengok menghadap todongan benda
itu.
“Uhh…isepin yah Neng !” lenguhnya seraya menjejali mulutku dengan
penisnya.
Dalam mulutku penis itu masih menyemburkan isinya dan itu kuhisapi
tanpa memikirkan rasa jijik lagi walaupun baunya yang agak
menyengat, mungkin karena saking terangsangnya sampai tidak sadar
aku jadi seliar itu. Sampai sejauh ini ponselku yang kutaruh di meja
sana sudah berdering sekali dan dua SMS sudah masuk, kubiarkan saja
karena tanggung. Aku dapat merasakan penis si gondrong menyusut
dalam mulutku dan pemiliknya terengah-engah.
“Yee, payah lu, belum nojos udah ngecrot !” ledek Gungun pada
temannya.
“Enak pisan sih anjrit, sampe ga tahan !” balas si gondrong
Sekarang si mata besar mengajak ganti posisi, mereka lalu
membalikkan tubuhku hingga telungkup. Akhirnya ganti posisi juga
pikirku, aku sudah gerah daritadi berbaring telentang sambil
dikerjai mereka, punggungku panas sekali rasanya dan benar saja
keringatku sudah membasahi sprei dibawahku tadi. Perutku diangkat
dari belakang hingga posisiku seperti merangkak. Kutengokkan
kepalaku ke belakang dan kulihat si mata besar kembali memasukkan
penisnya ke vaginaku.
Tusukan-tusukan kembali kurasakan, kali ini lebih cepat dan dalam.
Di depanku si Acep berlutut minta giliran merasakan mulutku. Akupun
membuka mulut mempersilakan batang itu memasukinya. Kuemut benda itu
tanpa menghiraukan lagi baunya, tidak terlalu besar tapi cukup
keras, namanya juga barang ABG. Aku melirik ke atas melihat anak itu
merem-melek menikmati kulumanku, lucu juga reaksinya yang amatiran
itu.
“Gimana Cep, asyik ga diemot kont*lnya ?”
“Si Acep udah gede euy !”
Celoteh-celoteh yang ditujukan pada si Acep itulah yang sempat
kudengar waktu itu. Sambil terus mengoral Acep, akupun selalu
menggoyang pantatku mengikuti genjotan si mata besar, terus terang
rasanya enak sekali seperti diaduk-aduk. Payudaraku yang menggelayut
sedang dipegang-pegang si gondrong yang sedang mengistirahatkan
penisnya. Tangan kananku menggenggam penis si Gungun dan mengocoknya
pelan.
“Pelan-pelan aja kocoknya Neng, ga pengen cepet-cepet ngecrot sih !”
demikian katanya.
Sibuk sekali aku jadinya dan udara sekitarku serasa makin panas
karena dikerubuti empat orang ini, mana badannya lumayan bau lagi.
Hanya birahi yang meninggilah yang mengalihkanku dari semua itu.
Sekitar lima belas menit menggenjotku, si mata besar sepertinya mau
keluar, kelihatan dari sodokannya yang makin cepat.
“Annjjiiinngg…aaahhh !” lenguhnya panjang diiringi semprotan
spermanya di dalam vaginaku yang tak bisa kutolak.
Sialan juga nih orang pikirku, sembarangan main buang di dalam, ga
minta ijin atau omong dulu kek padahal gak pake kondom, untung waktu
itu aku tidak dalam masa subur, kalo iya kan amit-amit harus hamil
sama orang-orang ginian. Begitu penisnya lepas, aku merasa cairan
hangat meleleh membasahi paha atasku. Gungun langsung mengambil alih
posisinya menusukkan penisnya padaku seolah dapat membaca apa yang
ada dalam hati kecilku yang masih ingin digenjot karena belum
mencapai klimaks alias tanggung. Si Acep yang masih kuoral nampaknya
makin menikmati saja, tanpa sadar dia memaju-mundurkan pinggulnya
seakan sedang menyetubuhi mulutku. Dia mengeluarkan spermanya dalam
mulutku saat Gungun menggenjotku dengan ganasnya sehingga aku tidak
bisa konsentrasi mengisap penis itu, maka cairan itupun meleleh
sebagian di pinggir bibirku.
Setelah Acep melepas penisnya yang telah kubersihkan dari mulutku,
lengan Gungun mengangkat dadaku sehingga kini aku berlutut, Gungun
tidak berhenti menggenjotku sambil menopang tubuhku dengan lengannya
yang melingkari perutku. Si mata besar sambil mengistirahatkan
senjatanya menggerayangi payudaraku yang membusung dalam posisi itu.
Si gondrong memintaku kembali mengoral penisnya yang sudah mulai
bangkit lagi, sepertinya dia suka dengan pelayanan mulutku.
Kugenggam penisnya yang disodorkan padaku, ih…masih lengket-lengket
bekas spermanya tadi, sedikit jijik aku dibuatnya namun juga tak
kuasa menolaknya. Serta merta kumasukkan benda itu kemulutku,
kujilati sisa-sisa spermanya hingga bersih. Di dalam mulutku benda
itu semakin mengeras dan bergetar.
“Pelan-pelan aja Neng, buat persiapan ngejos di bawah nanti !”
katanya.
Tak lama kemudian tubuhku kembali mengejang, seperti ada yang mau
meledak di bawah sana. Aku melepas kulumanku untuk melepaskan
desahan yang tak bisa kutahan lagi, lendirku pun kembali keluar
bersamaan dengan tubuhku. Orgasme kali ini terasa lebih panjang,
Gungun masih menggenjot sampai 2-3 menit kemudian hingga akhirnya
diapun menghujam penisnya lebih dalam dan mempererat pelukannya. Dia
menggeram dan memuntahkan spermanya ke dalam vaginaku, hangat
kurasakan di dalam sana. Kami break sebentar sekitar lima menitan.
Saat itu Gungun dan Acep memperkenalkan dua orang itu kepadaku, yang
gondrong namanya Amad dan yang matanya melotot itu namanya Ifud,
memang benar keduanya adalah teman mereka yang tinggal di pemukiman
penduduk tak jauh dari sini.
Gungun juga bercerita bagaimana mereka bisa masuk sini. Ternyata
mereka iseng mengintipku waktu keluar dari kamar mandi tanpa busana
tadi lewat lubang angin diatas pintu kamarku dengan memakai bangku
tinggi. Tadinya sih hanya sekedar mau ngintip, tapi tak lama
kemudian waktu Amad dan Ifud mau pulang mereka ingin ngintip yang
terakhir kali dan menemukanku telah terlelap hanya dengan memakai
celana dalam dan selimut yang tersingkap. Situasi kost yang sedang
sepi dan nafsu setan mendorong mereka berencana memperkosaku. Maka
setelah yakin aku benar-benar tidur, Gungun mencongkel kaca nako
yang tepat di sebelah pintu lalu meraih grendel sehingga mereka bisa
masuk dan terjadilah seperti ini. Aku sebenarnya marah mendengar
semua itu, lancang sekali mereka berbuat begitu, ini kan pemerkosaan
namanya, tapi mau marah gimana juga toh aku menikmatinya, salahku
juga berpakaian mencolok di depan mereka. Aku menatapi mereka satu-
persatu yang memandangi tubuh telanjangku dengan tatapan kesal
sekaligus berhasrat. Tidak tau mau omong apa deh, soalnya perasaanku
benar-benar campur aduk sih.
“Bentar yah, mau cuci muka dulu” kataku sambil bangkit dan
melangkahkan kakiku dengan gontai ke kamar mandi.
Di sana aku mencuci mukaku dari cipratan sperma agar aroma yang
menyengat itu hilang. Keluar dari kamar mandi, kembali aku duduk di
kasur dikelilingi mereka. Sudah tanggung untuk dihentikan, jadi
kuikuti saja deh permainan mereka. Kali ini si Acep yang masih hijau
itu minta diajari cipokan.
“Boleh yah Neng, soalnya saya pengen ngerasain dicium cewek itu
kayak apa sih, apalagi cewek cakep kaya Neng” pintanya, mukaku
memerah karena malu dan juga tersanjung akan pujiannya.
“Cium-cium-cium !” teman-temannya yang lain menyorakinya
“Sssttt…jangan keras-keras dong, ada yang tau gimana !” kataku
memperingatkan sehingga mereka mengurangi volumenya.
Aku memejamkan mataku seperti kebiasaanku berciuman menunggu Acep
menciumku, pertama-tama aku merasa bahuku dipegang lalu menempellah
bibirnya dengan bibirku. Teknik ciumannya benar-benar amatiran, kaku
dan membosankansekali, sehingga aku yang berinisiatif memainkan
lidahku baru dia mulai bisa membalasnya, aku melingkarkan tangan
memeluknya dan percumbuan kami makin panas.
Selama percumbuan itu juga aku merasakan tangan-tangan lain
berkeliaran di sekujur tubuhku, mengelusi punggung, paha, payudara,
dll. Tidak jelas siapa yang melakukan karena aku memejamkan mata,
yang jelas darahku mulai bergolak lagi karena belaian ditambah
kometar-komentar jorok mereka. Ada seseorang memelukku dari belakang
dan menjilati leherku, oohh…benar-benar sensasional, demikian
rasanya pertama kali dikeroyok. Lama juga aku berciuman sambil
digerayangi, nafasku sampai naik-turun ga karuan karenanya. Setelah
itu si Amad gondrong meminta jatahnya, dia berbaring telentang dan
menyuruhku membenamkan penisnya pada vaginaku. Akupun naik ke atas
penisnya, benda itu kugenggam dan kueluskan pada kemaluanku dulu
supaya nafsu si Amad mendidih. Kemudian baru aku mulai
menjebloskannya perlahan-lahan.
“Ahhh…eeegghh !” desahku saat memasukkan penis itu, aku memejamkan
mata dengan bibir membuka.
Setelah terasa mentok, akupun perlahan menaik-turunkan tubuhku. Amad
juga mendesah kenikmatan karena penisnya dihimpit dinding vaginaku.
Gerak naik-turunku semakin cepat sehingga payudaraku ikut bergoncang-
goncang. Dengan aku yang memegang kendali, si Amad kelihatan
kelabakan, dia mendesah-desah gak karuan. Kelihatan sekali
pengalaman seksnya masih dibawahku. Dia julurkan tangannya meraih
payudara kiriku, sepertinya dia gemas melihat payudaraku yang juga
naik-turun itu. Dua orang lainnya duduk menonton liveshow kami,
Gungun sebelumnya telah turun ke bawah untuk memeriksa keadaan dan
berjaga-jaga di pos jaga dekat gerbang. Tak lama kemudian si Ifud
mendekatiku dan berdiri di sebelah menyodorkan penisnya yang
langsung kugenggam. Jadilah aku bergaya woman on top sambil
mengocoki penis Ifud. Amad, ternyata tidaklah setangguh yang kukira,
tampang boleh sangar kaya preman, tapi dia orgasme dalam waktu yang
relatif singkat, isi penisnya tertumpah dalam vaginaku. Aku paling
senang ML di saat safe seperti ini, bebas dari rasa was-was walau
pasanganku buang di dalam. Tanpa malu-malu lagi, kupanggil si Acep
agar menuntaskan birahiku. Aku duduk di kasur membuka kedua pahaku
seakan mempersilakan anak itu menusuknya, aku harus membimbing
penisnya memasuki vaginaku karena ini pertama kalinya bagi dia.
Setelah kepalanya menekan bibir vaginaku, kusuruh dia mendorong
pantatnya.
“Ohhh…yess !” desahku ketika penis perjaka itu menghujam ke dalam.
Selanjutnya yang kurasakan adalah gesekan-gesekan antara penisnya
dengan dinding kemaluanku. Acep pun semakin menikmati persetubuhan
pertamanya itu dengan makin cepat menusuk-nusukkan penisnya hingga
akhirnya kitapun orgasme bersama atas bimbinganku tentang mengatur
tempo genjotan. Sisa waktu sekitar sejam lebih kedepan aku terus
disetubuhi mereka baik secara bergilir maupun barengan. Hingga
akhirnya kami semua pun kelelahan bersimbah peluh. Wajahku sekali
lagi belepotan sperma karena salah seorang membuangnya di sana
ketika orgasme. Sejak itu mereka sering memintaku melakukan hal yang
sama lagi, terutama Acep dan Gungun. Terkadang memintanya agak
memaksa pula. Memang sih awal-awalnya aku cukup menikmati, tapi lama-
lama kesal juga karena mereka makin gak tau diri, misalnya pernah
satu malam Gungun mengetuk pintu minta jatah lagi, sehingga
mengganggu tidurku.
Aku sampai pernah marah dan mengancam akan melapor ke pemilik kost
sehingga mereka agak ngeper, terutama setelah Gungun keceplosan
ngomong tentang itu ke pamannya yang menengoknya dari kampung,
sehingga pria paruh baya itu juga sempat minta jatah padaku (kalau
sempat akan kuceritakan juga). Aku tidak ingin hal ini tercium
kemana-mana, apalagi sampai `kecelakaan’ gara-gara mereka, maka
kuputuskan setelah sewaku habis bulan itu, aku pindah ke kost lain
yang agak jauh dari tempat itu hingga saat ini. Terkadang terbesit
di benakku ingin mengulangi lagi keroyokan seperti itu, tapi
ah…tidaklah, terlalu berisiko tinggi terhadap imej dan kesehatan
nantinya. Bulan September lalu aku sempat bertemu lagi dengan si
Gungun ketika sedang berjalan di dekat kost lamaku itu, kelihatannya
di baru dari membeli sesuatu.
“Neng, udah lama yah !” sapanya sambil senyum cengengesan.
Aku membalas dengan senyum kecil saja sambil terus melangkah agak
jutek.
“Siapa tuh Na ? masa lu kenal sama yang gituan ?” tanya seorang
temanku yang jalan bareng.
“Ohh, itu cuma babu di kost lama gua, masih inget gua juga dia yah”
jawabku santai.
“Naksir ke lu kali” timpal temanku yang lain disusul tawa kami.


About this entry