Fantasi Seks Liar Dengan 2 Wanita Setengah Baya

Berikut ini adalah pengalaman aku dengan seorang wanita baya, sebut saja namanya Debbie umur 35 tahun dan Lucy 33 tahun. Seperti yang sudah-sudah, aku mengenal sosok Debbie dari seringnya aku online sebagai chatter.

Aku bisa menilai, Debbie adalah sosok yang hot dalam bercinta. Dengan ciri-ciri 170/65, berdada sintal, berpinggul sexy dan kelihatan sekali dia adalah seorang wanita yang suka sekali senam sehingga badannya terasa padat berisi. Itu semua aku ketahui setelah dia kirim aku foto dan aku tahu kalau dia penganut sex bebas juga dengan para karyawan-karyawan yang ada di surabaya, itupun aku ketahui setelah Debbie banyak cerita tentang kehiduapn sexnya.

Singkat cerita, kita janjian untuk ketemuan, dengan catatan dia harus bawa teman karena menurut dia, tidak pernah ada acara copy darat sendirian. Dan gilanya lagi dia sudah booking hotel, saat acara ketemuan nanti. Itu karena supaya dia tidak ketahuan suaminya, dia pilih Hotel. Karena menurut Debbie, Hotel adalah tempat yang paling aman.

Sesuai dengan hari yang sudah dibicarakan bersama, akhirnya aku bergegas meluncur menuju hotel yang dia booking. Setelah di depan hotel, aku berusaha menelpon dia untuk menanyakan di kamar nomor berapa.

“Hallo Dandy, kamu ada dimana” tanya Debbie.

“Aku sudah di depan lobby, Mbak Debbie di kamar no. Berapa?”aku berusaha mencari tahu.

“Naik aja lift ke lantai 3, terus cari nomor 326,” suara Debbie dengan jelas.

“Ok Mbak, aku segera naik,” jawabku.

“Ok aku tunggu,” suara Debbie dengan ceria.

Setelah aku tutup celluler ku, bergegas aku menuju kamar yang disebut oleh Debbie.

“Tok-tok-tok” aku mengetuk pintu yag betuliskan nomor 326.

Setelah pintu terbuka, aku sedikit terpana dengan tubuh Debbie yang tinggi semampai.

” Dandy ngapain bengong, masuk dong,” sambil menggapai lenganku.

Sesampai di dalam kamar, ternyata benar Debbie bersama dengan temannya, sesuai dengan janji dia.

“Dandy” aku ulurkan tanganku.

“Dandy, ini temenku Lucy” Debbie mengenalkan temannya dan sambari begitu, si Lucy bangkit dari duduknya langsung menyalami aku.

Keadaan berikutnya memang sedikit kaku karena aku juga kikuk, mengingat dalam kamar itu ada kami bertiga. Seandainya cuman berdua dengan Debbie aku lebih berani.

“Dandy, kamu nggak seperti di foto deh, sepertinya kamu lebih berisi” Debbie membuka omongannya.

“Jangan-jangan yang difoto bukan kamu” tuduh Debbie.

“Tidak kok Mbak, itu memang foto Dandy,” aku coba membela diri.

“Dy, kata Debbie kamu jago banget ya.. Ngesexnya?” tanya Lucy.

Pertanyaan itu bagaikan menghantam dadaku. Deg! jantungku terasa berhenti sekian detik.

“Mmm anu biasa kok Mbak,” jawabku gugup.

“Nggak apa-apa kok Dan, santai aja Lucy sama kok seperti Debbie” hibur Debby.

Pembicaraan semakin menjurus ke arah yang berbau sex, kedua wanita sebaya ini aku tafsir merupakan wanita-wanita yang doyan banget ngesex.

Aku sempat memutar otak dengan keadaan ini dan bertanya dalam hati, suami mereka itu gimana kok ‘menelantarkan’ istri-istri sexy begini. Apalagi Lucy, sepertinya membiarkan mataku melihat bongkahan paha mulus di balik rok mininya. Sesekali dia merubah posisi duduknya tanpa harus riskan dengan aku yang duduk di depannya. Disaat aku melamun tentang khayalan aku, tiba-tiba Debbie sudah berada di pangkuan aku, jantungku berdetak semakin kencang.

“Dy, buktikan omongan kamu di chatting selama ini,” pinta Debbie sambil menempelkan dadanya ke muka wajahku. Aroma parfumnya yang begitu membangkitkan gairahku mengusik adik kecilku yang menghentak-hentak dinding CD-ku.

“Mbak” belum sempat aku selesaikan jawaban itu, bibir Debbie yang tipis segera melumat bibirku. Aku sedikit gugup menerima serangang yang mendadak ini. Tetapi aku berusaha mengontrol keadaan aku. Disaat bibir Debbie sedang asyik menikmati bbibirku, tanganku yang nakal mulai mengelus punggung wanita paruh baya tersebut.

Dengan kemahiran gigiku, aku melepas kancing blus belahan rendah yang ada pada dada Debbie. Sampai akhirnya 4 kancing atas blus Debbie terbuka, dan mulailah aku bisa mengusasi keadaan. Dengan belaian yang halus dan penuh perasaan, jari-jemariku mulai membuka pengait kancing BH Debbie.

Dengan sedikit sentuhan, ‘tess’ BH Debbie yang berwarna hitam terbuka. Dan muncullah 2 bukit yang masih kencang didepan mukaku lengkap dengan sepasang puntingnya yang memerah. Aku bisa membaca apa yang sedang terjadi pada diri Debbie, dengan jilatan maut lidahku membuatnya merintih, “Ughh, geli sayang”

Jilatan lidahku yang mendarat di puting Debbie, membuat wanita itu menggeliat tidak beraturan. Karena Debbie masih menggunakan baju kantor (baca: rok mini). Tanganku semakin berani untuk mengelus pahanya yang putih mulus. Sesekali tubuhnya yang sintal bergoyang dipangkuan aku dan sekitar 15 menit aku di posisi itu, semua inderaku bekerja sesuai fungsi masing-masing.

Disaat aku sedang melakukan foreplay, Lucy masih duduk di tempatnya semula. Akan tetapi sekarang kedua kakinya yang jenjang dibuka lebar sedangkan tangannya meremas buah dadanya sendiri

“Mm.. ” sesekali Lucy merintih, mendesah melihat adegan Debbie dengan aku.

Setelah 25 menit, aku mencoba menyandarkan tubuh Debbie ke dinding kamar. Posisi ini sangat menguntungkan aku untuk mulai menikmati setiap cm tubuh Debbie. Aku lumat bibir Debbie, kemudian turun ke lehernya dan berlanjut ke buah dadanya yang sintal. Aku menjongkokkan tubuhku untuk menjilati puser Debbie.

“Akhh.. Dy, beri aku janjimu sayang.. Ughh,” lidahku mulai nakal menjelajahi perut Debbie. Sampai akhirnya aku mencium aroma bunga di lubang surga Debbie. Tanpa melepas CD yang dipakai, aku segera memainkan lidahku diatas kemaluannya. Dan bersamaan dengan itu kepala Debbie menggeleng kekanan-kekiri, seperti iklan sampho clear yang lagi berketombe di diskotik. Dengan sentuhan perlahan, aku melepas Debbie, karena posisinya berdiri sangat mudah sekali melepas CD warna putih berenda yang dikenakan.

Tanganku berusaha membuka kedua kaki Debbie yang masih menggunakan sepatu hak tingginya. Sehingga memudahkan lidahku untuk mengocok lubang kewanitaanya.

“Srupp.. Srupp, crek.. Crek” lidahku mulai menghujam vagina Debbie.

“Dy, kamu memang asyik.. Geli sekali.. Ooohh” Debbie merintih panjang saat lidahku mulai, mengulum, menjilat dan menghisap clitorisnya yang sudah mulai membesar dan berwarna merah. Aku mulai merasakan sesuatu akan meletup dalam diri Debbie. Dengan segala pengetahuan aku dalam ilmu bercinta, aku angkat satu kaki Debbie keatas pangkuan pundakku sehingga lidahku bisa leluasa menikmati cairan yang mulai meleleh di lubang surgawinya.

Dengan posisi berdiri kaki satu, aku semakin mempercepat jilatan lidahku, sampai akhirnya Debbie tidak kuasa membendung orgasmenya.

“Dy, aku keluar.. Aakkhh” bersamaan dengan itu pula cairan kental muncrat ke wajahku.

Dan diisaat aku masih bingung untuk membasuh wajahku tiba-tiba dari belakang Lucy mengangkatku sambil berkata “Dy, sekarang giliranku”.

Rupanya Lucy dari awal sudah memainkan jarinya diatas clitorisnya sambil menonton adegan antara aku dengan Debbie. Terbukti Lucy tidak lagi menggunakan CD yang tadi dikenakannya. Lucy membungkukkan badannya ke bibir meja, sehingga belahan merah pada selangkangannya terlihat jelas dari belakang. Bagaikan segerombolan tawon yang melihat madu, lidahkan langsung menari-nari di lubang kemaluan Lucy.

“Dy, enak.. Sekali sayang.. Akhh” Lucy merintih.

Dengan posisi aku duduk di lantai menghadap selangkangan Lucy, yang membuka lebar pahanya. Memudahkan aku beroperasi secara maksimal untuk menekan lidahku lebih dalam, sedangkan tanganku meremas pantat Lucy yang sexy.

Disaat aku sedang asyik menikmati lubang vagina Lucy, tiba-tiba Debbie sudah memereteli celanaku. Sehingga adikku yang berukuran 16 cm kurang dikit dan mempunyai bentuk yang sedikit bengkok ke kiri, menyembul keluar setelah sekian menit dipenjara oleh CD ketatku merk crocodille.

“Waow Dandy, gila banget besar sekali sayang.. Mmm” selanjutnya tidak ada suara lagi karena penisku sudah dilahap oleh mulut Debbie yang rakus. Aku merasakan betapa pandainya lidah Debbie menari di batang kemaluanku. Sesekali aku melepas kulumanku di vagina Lucy, karena merasakan kenikmatan permainan oral dari mulut Debbie.

Lucy sudah mulai bocor pertahanannya dan berkata sambil mendesah,

“Dandy.. Aku.. Aku.. Mau.. Kelu.. Arr.. Aahh,” tangan Lucy yang tadinya beroperasi dibuah dadanya sekarang menekan kepalaku dalam-dalam pada selangkangannya, seolah memohon jangan dilepas isapan fantastis itu. Untuk yang kedua kalinya wajahku belepotan oleh cairan wanita sebaya yang keluar dari lubang surgawi mereka. Disaat aku sedang membasuh wajahku yang penuh cairan, tiba-tiba Debbie menarik lenganku, hingga badanku berdiri.

“Dy, aku ingin style berdiri,” ajak Debbie sambil menarik tanganku untuk mengikuti dia berdiri.

Sambil bersandar di dinding, aku langsung mengarahkan adik kecilku dari bawah. Sehingga posisi berdiri tersebut sempurna sekali, dan itupun ditambah posisi Debbie yang masih belum melepas sepatu hak tingginya. Karena dengan demikian posisi Debbie lebih tinggi dari posisi aku berdiri.

“Bless” suara adik kecilku menembus belahan kecil diselangkangan Debbie

“Dy, enakk bangett.. Punyamu ” erangan Debbie.

Gerakan maju mundurku semakin mentok di pangkal vagina Debbie, hal itu disebabkan karena pantat Debbie ditahan oleh dinding.

“Crekk.. Crekk.. Sslleepp” suara penisku menghujam keluar masuk dalam lubang vagina Debbie. Buatku, Debbie termasuk orang yang bisa megimbangi permainan sex. Buktinya dengan posisi sulit seperti itu, dia juga sedikit mendoyongkan tubuhnya ke dinding sehingga batang penisku benar-benar masuk semua.

Keadaan ini berlangsung sampai akhirnya di menit ke 45, Debbie berteriak

“Dyy.. Ampun.. Aku.. Mau.. Kelu.. Ar lagi.. Gila” rintih Debbie.

Tubuh Debbie mendekapku erat-erat seolah tidak mau lepas dari batang penisku yang masih menancap lubang surgawinya. Dan sedetik kemudian tubuh Debbie merosot ke bawah dengan lunglai.

Aku berjalan menghampiri Lucy yang sedang menyandarkan tangannya untuk melihat keluar jendela. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, sambil memeluk dia dari belakang, penisku yang masih kencang menerobos liang vagina Lucy sehingga membuat dia terpekik.

“Aaowww.. Dy kamu nakal deh, aku masih capek.. Uuughh” aku tidak mempedulikan erangannya.

Seraya meremas buah dadanya yang kencang dari belakang, pinggulku mulai bergerak maju mundur. Posisi seperti ini benar-benar membuat aku melayang, lubang Lucy yang sedikit sempit dan seret dibanding punya Debbie. Dan hal itu membuat aku lebih bernafsu untuk menyetubuhinya. Itu wajar karena Lucy belum punya anak walaupun sudah menikah beberapa tahun.

Selang beberapa menit, “Dyy.. Aku nggak tahann.. Gila banget punya kamu terasa masuk sampai ulu hatiku.. Aaugghh,” rintih Lucy panjang, sambil tetap menggoyang pinggulnya. Dengan posisi setengah nungging dengan berdiri, memudahkan aku untuk memasukan penisku secara maksimal.

“Ughh.. Mbak.. Asyik banget punya Mbak” desah kenikmatanku untuk memuji kedua wanita itu sering keluar dalam mulutku.

“Dy.. Ampunn.. Aku.. Akkhh” Lucy merintih panjang.

Lucy merapatkan pahanya sehingga penisku terasa tersedot ke dalam semua. Gila, terasa copot penisku dibuatnya. Karena hebatnya permainan itu hingga tak terasa dinginnya AC yang ada dalam kamar itu. Aku coba mengambil segelas air es di kulkas, Debbie yang tadi terkulai menarik tanganku.

“Dy, coba lubangku yang satu dong?” pintanya sambil merengek.

“Hah! Mbak aku belum pernah,” sergahku.

“Sudahlah Dy, coba deh asyik kok,” sambil berkata begitu, tangan Debbie mencoba mengambil sisa cairan di paha Lucy dan mengoleskan ke lubang analnya.

“Sini dong Dy” tangan Debbie membimbing penisku untuk memasuki lubang analnya.

Karena bantuan cairan tadi membuat batang penisku dengan mudah menghujam anal Debbie.

“Aaoww” rintih Debbie saat penisku masuk semuanya dalam lubang analnya.

“Mbak.. Gila banget.. Uughh” aku merintih kenikmatan.

Permainan sex semacam ini, pertama buat aku. Lubang anal Debbie benar-benar seperti gadis yang masih perawan. 1 jam penuh akhirnya aku harus membiarkan diriku melayang oleh 2 wanita sebaya yang dengan hebatnya menguras tenagaku.

“Mbak, Dandy nggak tahan.. Mbak,” dan disaat aku mulai mencapai klimaks, tiba-tiba tangan Lucy sudah meraih batang penisku dan mengarahkan ke mulutnya.

“Crut.. Crut.. Crut.. Crut,” entah berapa kali spermaku muntah dalam mulut Lucy

“Aakhh.. “jeritku.

Sungguh fantastis, disaat aku menemukan klimaks itu, mulut lucy tetap saja mengocok, mengulum dan menyedot dalam-dalam penisku. Kedua wanita tersebut benar-benar tidak ingin spermaku keluar setetespun dari dalam mulutnya, sehingga aku benar-benar dibuat terbang oleh keduanya.

Permainan pertama berakhir dengan kepuasan yang amat sangat dan dinding-dinding hotel E, manjadi saksi bisu permainan sex kami bertiga. Setelah itu kami bertiga memesan makanan yang ada pada menu hotel. Dengan penuh canda, tawa dan gurauan yang lucu, membuat kita bertiga seperti sudah lama kenal. Sesekali Debbie menggodaku

“Dy, kamu minum jamu apa sih kok kuat banget ngesexnya?” tanyanya.

“Tahu tuh, gede banget punya kamu Dy. ” Lucy memuji penisku.

Kedua wanita setengah baya tersbut sepertinya bisa menerima service yang sudah aku berikan, karena aku lihat mereka berdua begitu happy.

“Mbak, mau pulang jam berapa?” tanyaku.

“Sekarangkan 23.15 menit, sebentar lagi deh. Kita belum main rame-rame?” kata Debbie.

“Deb, yuk kita main lagi buruan nih sudah malam,” ajak Lucy.

Mereka berdua berdiri menghampiri aku dan menarikku ke atas ranjang, hingga posisiku terlentang diatas ranjang. Debbie langsung naik keatas wajahku untuk menyodorkan lubang surgawinya ke arah mulutku. Dengan mudah aku mulai menjelajahi seluruh bibir vagina Debbie.

“Srupp.. Mmm.. Srrupp” suara lidahku mengoyak vagina Debbie.

Sesekali Debbie bergerak naik turun, sedangkan lidahku berkali-kali mengorek-ngorek dinding vaginanya. Terlihat dari bawah buah dadanya yang kenyal naik turun, seiring gerakkan tubuhnya diatas wajahku mengikuti jilatan lidahku.

Sedangkan Lucy sudah mulai melahap penisku yang sudah muali berdiri tegak. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, karena begitu nikmatnya permainan tersebut.

“Ugh.. Dy.. Terus.. Sayang masukan lidahmu.. Oohh,” rintih Debbie.

Kedua tangan Debbie meremas buah dadanya yang semakin kencang. Dibawah selangkanganku, Lucy benar-benar melahap batang kemaluanku dengan liarnya. Aku sendiri tidak bisa mendesah karena posisi Debbie yang berada diatas wajahku. Sehingga semakin nikmat hisapan mulut Lucy, semakin kencang pula aku menghisap vagina Debbie. Selang beberapa saat, Debbie bangkit dari atas tubuhku dan berkata,

“Lucy, aku sudah tidak tahan.. Gantian dong kamu yang diatas,” pinta Debbie.

Tanpa banyak kata-kata, Lucy menuju arah wajahku dan menggantikan posisi Debbie tadi. Cuman bedanya, kalo posisi Debbie tadi menghadap tembok, sedangkan Lucy menghadap Debbie. Debbie langsung meraih batang kemaluanku untuk dibimbing masuk ke dalam lubang surgawinya.

“Bless.. Crekk.. Crekk,” suara batang kemaluanku menembus lubang vagina Debbie.

Goyangan pinggul Debbie, menimbulkan sensasi yang luar biasa hingga aku rasakan sampai menyentuh jantungku. Sesekali gerakan Debbie, berganti naik turun.

“Oohh.. Dy.. Gila.. Lidah kamu.. Enak banget sayang.. ” puji Lucy.

Kedua wanita paruh baya malam itu benar-benar ingin terbang bersama, terbukti keduanya saling cium, saling raba dan saling merangsang. Sedangkan kedua lubang vagina mereka sudah sama-sama aku kerjai. Dibawah selangkanganku, Debbie aku sumbat dengan batang kemaluanku dan diatas, Lucy dihujam berkali-kali oleh lidahku yang nakal.

“Ohh.. Ampun.. Enak baget.. Sss,” rintih Lucy.

“Ss.. Dy.. Asyik banget penis kamu.. Uuhh,” desah Debbie.

“Uuuhh Lucy.. ” rintih Debbie, ketika mulutn tipis Lucy menjilat, mengulum dan menghisap punting Debbie.

“Dy.. Aku mau keluar” rintihan Debbie dibarengi dengan gerakan seperti kuda liar yang berkelenjotan kesana-kemari tidak beraturan.

“Dyy.. Am.. Pun.. Ahh,” Debbie menjerit panjang.

Terasa sekali cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Dan aku tidak peduli dengan keadaan Debbie yang lunglai. Karena mulutku masih asyik menikmati clitoris Lucy yang sudah mulai becek dengan cairan yang membasahi daerah sekitar vaginanya. Sampai akhirnya Lucy bangkit dan berkata kepadaku,

“Sudah Dy, aku nggak tahan ingin merasakan penis kamu,” pinta Lucy.

“Aku yang dibawah ya Dy?” ajak Lucy.

Dan aku segera bangkit dari posisiku yang pertama, sedangkan Lucy sudah menggantikan posisiku yang terlentang. Kedua kaki Lucy aku letakkan diatas pundakku, sehingga dengan mudah memasukkan penisku.

“Slebb.. ” penisku menerobos kerumanan rambut Lucy yang lebat.

“Oohh.. Dandy.. Kamu.. Pintar sekali sayang,” kata Lucy memuji.

Gerakan maju mundur pinggulku semakin maksimal dengan posisi seperti ini, dan sesekali Lucy mengimbangi untuk menggoyang pantatnya yang montok.

“Gilaa.. Kamu.. Dy.. Penis kamu panjang sekali,” kata Lucy sambil merem melek menikmati tikaman penisku pada lubang kemaluannya. Debbie yang sudah mulai bangkit dari rebahannya, langsung menyerbu buah dada Lucy yang bergerak keatas dan kebawah seiring dengan gerakan penisku yang keluar masuk di vaginanya.

“Uuhh.. Sss.. ” Lucy merintih dan meremas rambut Debbie yang sedang asyik menikmati puntingnya.

“Mbak Lucy, vagina kamu seret banget.. Asyik Mbak.. ” kata ku singkat.

“Iya Dy.. Nikmati semua sayang.. Sss,” untuk kesekian kalinya Lucy merintih hebat sembari bergetar tubuhnya. Disaat aku sedang menikmati lubang surgawi Lucy, tiba-tiba Debbie melepaskan lumatannya dan berkata,

“Lucy, coba anal dong..?” kata Debbie.

“Sss.. Aku belum pernah Deb.. Sss,” jawab lucy sambil tetap menikmati batang penisku yang tiada hentinya menghunjam lubang vaginanya.

“Makanya coba gih, enak banget lho.. Dandy stop deh!” perintah Debbie.

Aku langsung melepas batang penisku dari lubang vagina Lucy. Debbie yang terlihat lebih fasih dalam urusan sex, segera membimbing Lucy untuk posisi yang ideal. Lucy mengambil posisi doggie style dan sebelum aku masukkan pada lubang anal Lucy, Debbie terlebih dulu menjilati lubang anal Lucy.

“Deb.. Geli.. Ss” rintih Lucy saat lidah Debbie mendarat di lubang analnya.

Setelah benar-benar basah dengan air jilatan lidah Debbie, batang kemaluanku segera digapai oleh Debbie dan memerintahkan aku untuk segera beraksi.

“Dandy, masukin dong,” perintah Debbie.

Aku yang terbengong dari tadi melihat adegan Debbie, bergegas membimbing batang kemaluanku yang masih kencang untuk masuk ke lubang anal Lucy.

“Ssrett.. ” suara kepala penisku mulai berusaha menerobos lubang anal Lucy.

Dan ketika kepala penisku mulai masuk “bless”, Lucy merintih.

“Aahh Deb.. Sakit.. “rintih Lucy.

“Relax saja Lucy, sebantar lagi juga enak kok,” bujuk Mbak Debbie.

Sembari membujuk seperti itu, Debbie segera mengambil posisi dibawah tubuhku dan tubuh Lucy. Mulutnya mulai mnejilati clitoris Lucy dari bawah. Pahaku terasa geli ketika bukit kembar Debbie menggesek-gesek kulit luar pahaku mengikuti irama lidahnya yang keluar masuk di lubang vagina Lucy.

“Dy.. ” Lucy mendesah hebat ketika batang penisku, sepenuhnya mengoyak lubang analnya.

“Gilaa.. Debb.. Kamu.. Sss.. ” rintih Lucy yang semakin jelas bisa menerima dan menikmati style tersebut.

Kedua lubang Lucy benar-benar digempur oleh aku dan Debbie. Lubang anal Lucy sempit dikocok oleh penisku yang besar dan lubang vaginanya di kocok oleh lidah Debbie yang sedikit liar dan brutal.

“Aaduhh.. Aku.. Mau keluarr.. Sss” rintih Lucy.

“Deb.. Aaahh” Lucy merintih panjang.

Sedangkan aku masih liarnya menggapai klimaks, seraya menghujamkan penisku keluar masuk anal Lucy tanpa mau tahu apa yang sudah terjadi dengannya.

“Mbak.. Aku juga sudah.. Mau keluar.. ” erangku.

“Mbak.. Uugghh” aku merintih panjang.

Bersamaan dengan hal tersebut, Debbie yang dari tadi sudah menunggu anti klimaksku, langsung mencabut penisku dan dengan liarnya mengocok dengan cepat batang penisku, dan akhirnya sampailah aku dipuncak kenikmatan itu.

“Crut.. Crut.. Crut.. Crut” spermaku berhamburan keluar dan dengan buasnya kedua wanita paruh baya tersebut berebut menikmati spermaku yang entah berapa kali menyembur keluar dalammulut mereka.

“Banyak banget sperma kamu Dandy?” tanya Debbie.

Aku tidak bisa menjawab sepatah katapun karena memang aku sedang menikmati puncak permainan tersebut. Kedua wanita tersebut benar-benar istri yang haus kenikmatan tentang sex. Terbukti keduanya benar-benar membersihkan ceceran spermaku yang masi tersisah dengan lidahnya.

“Lucy, yuk buruan mandi sudah jam 00.20 nih,” kata Debbie sambil menepuk pantat Lucy.

Tepat jam 01.00 dini hari, kedua wanita tersebut sudah kembali dandan dan siap untuk pulang kerumah masing-masing.

“Dandy, terima kasih ya, kamu memang hebat dan sekarang kita berdua mau balik ke rumah, ntar suami aku mencariku,” Lucy berkata demikian sambil mencium bibirku, begitu juga dengan Debbie.

“Kamu istirahat saja dulu sayang disini, toh kamar ini sudah aku booking sampai pagi. Jangan khawatir aku sudah bayar kok” perintah Debbie.

“Terima kasih sayang, aku harap kita bisa ulangi permainan ini,” kata mereka berdua.

“Terima kasih adik kecil,” Debbie mencium penisku yang masih terkulai lemas, setelah permainan kedua yang kami lakukan tadi.

Mereka berdua meninggalkan aku yang masih duduk termangu di bibir ranjang, sambil menikmati goyangan pinggul mereka yang berjalan meninggalkan aku. Malam itu benar-benar pengalaman pertamaku untuk bercinta dengan 2 wanita sekaligus dan aku tidak percaya mampu mengimbangi permainan mereka berdua. Bisa dibilang, mereka berdua adalah ‘guru’ dalam masalah sex karena mereka lebih lama berumah tangga dibandingkan dengan aku.

Tetapi sekali lagi pengalaman pertama ini, semakin membuat diriku yakin bahwa sex akan bisa dinikmati jika kedua belah pihak menginginkannya. Dan yang terpenting, sex adalah sesuatu yang indah jika kita bisa menerjemahkan dalam visualnya.

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Aku bergegas naik keranjang dan tidur dengan pulas sambil berharap mimpi indah akan datang dalam tidurku.

Pagi hari, aku merasa fresh dengan tubuhku, aku mandi dan dandan rapi untuk kembali kekantor. Sambil meninggalkan hotel E, yang sudah memberikan pengalaman manis buat kehidupan sex aku.

*****

Pembaca 17Tahun.com ini adalah pengalamanku yang pertama untuk menikmati, mengenal apa itu anal sex dan bagaimana nuansa sex yang dimainkan secara ramai-ramai.

Aku sungguh beruntung mempunyai teman sebaya seperti mereka karena dari mereka-mereka aku bisa menambah pengetahuanku tentang sex education. Sekali lagi, apa yang sudah saya ceritakan adalah benar-benar nyata bukan fiktif. Aku hanya mengganti nama dan tempat supaya bisa menjaga rahasia identitas mereka karena itu sudah janji dan komitmen antara aku dengan mereka berdua.

TAMAT


About this entry